Hari Senin tanggal 28 September 2015, kelas pengantar teknologi pangan ditiadakan karena dosennya berhalangan hadir. Dan karena itu, hari tersebut kami selesai lebih cepat dan kelompok PTP kami memilih untuk mengerjakan tugas kelompok. Kelompok kami dinamakan kelompok cabe. Topik unutk semua kelompok dipilih dengan cara diundi, dan kelompok cabe mendapat topik Gadung atau Dioscorea hispida.
Dioscorea hispida merupakan tanaman liar yang hidup dengan cara merambat. Jadi tanaman ini membutuhkan media untuk merambat. Tanaman rambat ini biasa hidup di wilayah yang kering dan di Indonesia, gadung dapat ditemukan di pulau Jawa, Lampung, dan Kalimantan. Namun ternyata saya menemukan bahwa gadung ini juga dapat ditemukan di luar negeri, yaitu di Thailand, Australia, dan Afrika. Sangat sulit untuk menemukan tanaman gadung ini di daerah Tangerang dan Jakarta. Oleh karena itu kelompok kami memutuskan untuk membei gadung secara online sebanyak 10 kilogram.
Kami pun mulai mengolah gadung. Pertama-tama kami mulai dengan engupas kulitnya. Setelah itu kami potong gadung jadi beberapa bagian dan kami mulai melakukan penggaraman. Hal ini kami lakukan dengan tujuan untuk menghilangkan racunnya. Kami mengetahui metode ini dari jurnal yang kami temukan di internet. Metode ini dilakukan untuk meghilang kan racun berbahaya yang dapat menyebabkan mual, pusing, mabuk, bahkan hingga kematian. Tak heran banyak sekali warga yang taidak berani ambil resiko untuk mengolah gadung ini untuk dikonsumsi padahal harganya yang murah dapat menjadi salah satu kelebihan dari gadung.
Gadung direndam dalam air garam selama beberapa hari. Kemudian setelah direndam garam, rendam gadung dengan air biasa selama 4 hari dan airnya harus diganti setiap 6 jam sekali. Proses penetralan racun ini membutuhkan waktu yang cukup lama.
Kelompok kami pun mencicipi salah satu olahan gadung, yaitu keripik gadung. Kami mendapatkan keripik gadung yang dikirim langsung dari Magelang, Jawa Tengah. Banyak yang mengatakatan kala rasa dari keripik gadung familiar dengan keripik kentang. Namun gadung sendiri memiliki bau yang khas.
Dioscorea hispida merupakan tanaman liar yang hidup dengan cara merambat. Jadi tanaman ini membutuhkan media untuk merambat. Tanaman rambat ini biasa hidup di wilayah yang kering dan di Indonesia, gadung dapat ditemukan di pulau Jawa, Lampung, dan Kalimantan. Namun ternyata saya menemukan bahwa gadung ini juga dapat ditemukan di luar negeri, yaitu di Thailand, Australia, dan Afrika. Sangat sulit untuk menemukan tanaman gadung ini di daerah Tangerang dan Jakarta. Oleh karena itu kelompok kami memutuskan untuk membei gadung secara online sebanyak 10 kilogram.
Kami pun mulai mengolah gadung. Pertama-tama kami mulai dengan engupas kulitnya. Setelah itu kami potong gadung jadi beberapa bagian dan kami mulai melakukan penggaraman. Hal ini kami lakukan dengan tujuan untuk menghilangkan racunnya. Kami mengetahui metode ini dari jurnal yang kami temukan di internet. Metode ini dilakukan untuk meghilang kan racun berbahaya yang dapat menyebabkan mual, pusing, mabuk, bahkan hingga kematian. Tak heran banyak sekali warga yang taidak berani ambil resiko untuk mengolah gadung ini untuk dikonsumsi padahal harganya yang murah dapat menjadi salah satu kelebihan dari gadung.
Gadung direndam dalam air garam selama beberapa hari. Kemudian setelah direndam garam, rendam gadung dengan air biasa selama 4 hari dan airnya harus diganti setiap 6 jam sekali. Proses penetralan racun ini membutuhkan waktu yang cukup lama.
Kelompok kami pun mencicipi salah satu olahan gadung, yaitu keripik gadung. Kami mendapatkan keripik gadung yang dikirim langsung dari Magelang, Jawa Tengah. Banyak yang mengatakatan kala rasa dari keripik gadung familiar dengan keripik kentang. Namun gadung sendiri memiliki bau yang khas.
Komentar
Posting Komentar